Tradisi Nyeput Antara Melihat Masa depan atau Masa lalu

Tradisi Nyeput Antara Melihat Masa depan atau Masa lalu
Assalamualaikum warahmatullah warakatuh.
Hai, apa kabar Teman-teman, Jadi Kali ini Saya akan menceritakan tentang perjalanan Kedua saya Dalam Mencari Naskah Kuno Tetapi Kali ini Berbeda Karna Bukan Hanya Takepan Saja Yang Harus Saya Cari Akan Tetapi Saya Harus Melakukan Nyeput. ada Berita Bahagia Karena kali ini saya Dapat Melihat Naskah Kuno Yang sebelumnya belum Pernah Saya lihat kalau teman-teman sudah membaca Artikel saya yang Pertama maka pasti sudah tahu dan kali ini saya menepati janji saya Dan Menutupi rasa Penasaran Saya maupun Teman-teman Karena saya Dapat Dokumentasi Naskah Kuno atau Takepan Tersebut, pada hari Sabtu, 02 November 2019 saya dan teman-teman pergi Ke Lombok tengah Tepatnya di Desa Pujut Untuk Melakukan Nyeput dan Alhamdulillah Semuanya berjalan dengan lancar Sebelum Sampai di rumah Bapak Mujahidin Nafis Saya dan Teman-Teman Berhenti sejenak untuk Sholat Setelah sholat Kami Menghubungi Bapak Agar Lebih Pasti dan Setelah Bapak Mujahidin Nafis Menyuruh Kami Datang Kerumahnya maka kami langsung Berangkat Kesana kebetulan Kami sholat Di Masjid yang dekat dengan Rumah Beliau, Sesampai di Rumah Beliau Saya Pribadi Maupun Teman-teman sangat senang Karena Kami disambut dengan ramah Dan baik. Sebelum Nyeput Kami Berbincang-bincang sedikit Dengan Bapak Mujahidin Nafis dan Bapak Mustafa parna Tentang Apa Itu Nyeput. Jadi Dalam Nyeput  kami Disuruh Membaca sholawat Dalam hati Setelah Itu Kami Memegang Tali Takepan Menggunakan Tangan Kiri dan Memilih Takepan Menggunakan tangan Kanan ,Jadi Pada Saat Nyeput Bapak Mujahidin Nafis Membaca Takepan Labang Kare Sedangakn Bapak Hj. Najamuddin Mengartikan Takepan Labang Kare  kedalam bahasa Sasak  dan Bapak Mustafa parna Yang Mengartikan Kedalam bahasa Indonesia.
Nyeput Dengan Takepan Labang Kare di dalam Takepan Labang Kare saya Mendapat Tembang Durme (tembang perang). Jadi isi dari Takepan tembang Durme Yang saya Dapat Yaitu menceritakan seorang pemuda Tampan yang bernama Labang Kare  yang mendapat tugas untuk pergi Ke suatu Tempat yang dihuni oleh Raksasa, Lalu ditanya Labang Kare itu, Kenapa Bisa datang Ketempat ini padahal perjalanan ini sangat berbahaya , apa tujuanmu datang kesini ?  Lalu Labang kare Menjawab saya datang kesini diperintah oleh sang Raja Wonosari Untuk mencari Sesuatu yang ada didalam Mimpi sang Raja. Jadi Raja pernah bermimpi bertemu dengan seorang gadis cantik yang akan dijadikan istri untuk dipersunting Karna Mimpi sang Raja Inilah Yang membuat Labang Kare Datang untuk melakukan Tugasnya , Labang Kare adalah seorang pemuda yang masih bujang (Belum Menikah) Tidak Mempunyai ayah maupun Keluarga Labang Kare Merupakan Orang suruhan Raja. Sebenarnya Sang Raja Menyuruh Sang patih akan tetapi Sang Patih tersebut tidak bisa menjalankan tugas tersebut maka Labang Kare Yang Mengambil Tanggung jawab tersebut. Jadi Setelah Menerjemahkan Tembang Durme Yang telah saya pilih Bapak Hj. Najamuddin mulai mengaitkan dengan kehidupan saya kata beliau saya disini Sebagai Labang kare Cerita ini merupakan suatu Rintangan atau tantangan kebetulan tembangnya Bernama Durme, Durme ini yaitu Perjuangan beliau mengatakan bahwa saya orangnya tidak mudah menyerah sebenarnya saya sudah tahu bahwa tempat yang saya lalui itu sangat berbahaya akan tetapi saya tetap ingin pergi ketempat tersebut dan saya bisa sampai ketempat itu merupakan suatu hal yang sangat bagus Beliau mengaitkan Dengan kuliah saya kata Beliau saya mampu melewati sagala sesuatu yang berhubungan dengan kuliah padahal saya tahu itu sulit akan tetapi saya selalu berusaha dan Alhamdulillah berhasil .





Dari Cerita Diatas maka saya menggunakan Pendekatan Sosiologi sastra. saya menggunakan pendekatan sosiologi sastra karena karya sastra tidak bisa dipahami secara utuh jika dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkannya karena karya sastra tidak terlepas dari realitas social yang terjadi dalam masyarakat. Kejadian atau peristiwa kehidupan dalam masyarakat dapat direkam oleh pengarang melalui daya kreasi dan imajinasi. Kejadian tersebut dijadikan karya sastra yang menarik dan bermanfaat. Karya sastra digunakan pengarang untuk mengajak pembaca ikut melihat, merasakan, menghayati makna pengalaman hidup yang pernah dirasakannya. Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra bisa menjadi gambaran masyarakat di sekitar pengarang, sekaligus tanda yang menunjukkan situasi dan kondisi lingkungan pengarang. Sebuah karya sastra lahir dari situasi yang terjadi di sekitar pengarang. Jadi dapat saya simpulkan bahwa suatu karya sastra tidak terlepas dari kehidupan kita, kebudayaan serta lingkungan, dari cerita diatas jadi Nyeput bisa dikatakan merupakan suatu kebudayaan yang sampai sekarang masih dilakukan oleh Masyarakat di Lingkungan Pujut bahkan masyarakat Sasak di tempat-tempat tertentu masih melakukan Tradisi Nyeput.


Sekian dari Cerita Nyeput saya semoga Cerita ini dapat Bermanfaat bagi Teman-teman. Wassalamualaikum Warahmatullah wabarakatuh.

Komentar